Tiga lokasi Holywings ditutup Pemkab Tangerang

Kami Pemerintah Kabupaten Tangerang akan menutup seluruh gerai Holywings yang ada di wilayah Kabupaten Tangerang,” ujar Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskanda pada awak media di Pendopo Bupati Tangerang, Kota Tangerang, Rabu (29/6/2022).

Read More

MAJALAHTRASS.COM, JAKARTA : ~ Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang menutup tiga restoran sekaligus bar Holywings yang berada di wilayahnya.
Penutupan tiga Holywings itu berdasarkan keputusan yang dilakukan, Selasa (28/6/2022) malam.

“Sudah diputuskan semalam. Kami Pemerintah Kabupaten Tangerang akan menutup seluruh gerai Holywings yang ada di wilayah Kabupaten Tangerang,” ujar Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar pada awak media di Pendopo Bupati Tangerang, Kota Tangerang, Rabu (29/6/2022).

Menurutnya, alasan tiga gerai Holywings di Kabupaten Tangerang ditutup, lantaran mereka melanggar Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Tangerang Nomor 20 Tahun 2004 tentang Ketenteraman dan Ketertiban Umum.

“Dijelaskan pada Pasal 2 Ayat 1 (Perda Kabupaten Tangerang Nomor 20 Tahun 2004, Red), unit usaha dilarang membuat keributan atau keonaran di sekitar tempat tinggal, tempat usaha atau tempat lainnya dan membuat sesuatu yang dapat menggangu ketertiban orang banyak dan orang lainnya,” ungkap Pria yang juga Ketua Umum Golkar DKI ini.

Holywings melanggar Perda tersebut karena apa yang mereka lakukan pada pekan kemarin. Yakni soal promosi minuman keras menggunakan nama Muhammad dan Maria, jelas Zaki

Sebagai langkah selanjutnya, Pemkab Tangerang kini tengah mengirimkan surat ke pengelola tiga Holywings yang berada di Kabupaten Tangerang.

“Apa yang mereka lakukan akhir pekan lalu sangat mengganggu ketertiban umum dan sosial di wilayah Kabupaten Tangerang juga,” tegas Zaki.

Di tempat terpisah diketahui, Jum’at (25/06) lalu Polres Metro Jakarta Selatan telah menetapkan enam orang sebagai tersangka pada promosi minuman keras (miras) gratis dengan nama “Muhammad-Maria” oleh salah satu pemilik label tempat hiburan di Jakarta, Holywings .

Penetapan ini berkaitan dengan konten promosi tersebut yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Polisi Budhi Herdi Susianto mengatakan, Ada enam orang yang sebelumnya berstatus saksi kita naikkan statusnya sebagai tersangka. Kesemuanya bekerja di Holywings BSD

“Ada enam orang yang sebelumnya berstatus saksi kita naikkan statusnya sebagai tersangka. Kesemuanya bekerja di Holywings BSD,” ungkap Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Polisi Budhi Herdi Susianto.

Sebelumnya, Polres Metro Jakarta Selatan memeriksa keenam tersangka tersebut sebagai saksi atas unggahannya terkait promosi miras gratis “Muhammad-Maria”.

kasus yang kontennya diunggah dari kawasan BSD, Kota Tangerang Selatan.

Keenam orang yang ditetapkan sebagai tersangka, adalah : EJD (27) selaku Direktur Kreatif, NDP (36) selaku Head Tim Promotion, DAD (27) sebagai desain grafis, EA (22) selaku admin tim promosi, AAB (25) selaku sosial media officer, dan AAM (25) sebagai admin tim promo yang betugas memberikan permintaan ke tim kreatif.

Adapun barang bukti yang disita polisi yakni photo layar (screenshot) unggahan akun resmi Holywings, 1 (satu) unit mesin atau PC komputer, 1 (satu) unit telepon seluler, 1 (satu) unut eksternal hardisk dan 1 (satu) unit laptop.

Kemudian yang menjadi motif dari para tersangka dalam membuat konten tersebut adalah untuk menarik banyak pengunjung datang ke gerai yang kurang pengunjung.

“Konten promo tersebut dimaksudkan oleh tersangka guna menarik banyak pengunjung untuk datang ke gerai, khususnya di gerai yang presentase penjualannya di bawah target 60 persen,” terang Budhi.

Ada banyak pasal yang dikenakan untuk menjerat keenam tersangka tersebut, yakni pasal pasal 14 ayat 1 dan 2 UU No. 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidang, khususnya pasal menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat.
Pasal 156 atau pasal 156a KUHP yang pokoknya bersifat permusuhan, penyalah-gunaan atau penodaan terhadap suatu agama.

Ada juga pasal 28 ayat 2 UU ITE tentang menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Dan atas perbuatan / tindak pidana mengenai hoaks dan penistaan agama yang dilakukan keenam tersangka tersebut mendapatkan ancaman hukuman 10 tahun penjara. **Red/MDT

Related posts