Perokok Aktif, Harga Rokok Naik, Berlaku 1 Februari

  • Whatsapp

Jakarta,trass – Mendengar Kabar yang tidak menyenangkan datang dari pemerintah.

Kabar ini membuat kekecewaan bagi perokok aktif.

Read More

Dikarnakan tinggal seminggui lagi, semua jenis merk rokok akan naik.

Bagi pecandu/penggemar rokok dengan ada kabar ini takkan membuatnya goyah sedikit pun.

Kenaikan harga rokok ini akan diberlakukan awal Februari untuk semua merk rokok bakal naik lagi.

Untuk besaran kenaikan harga rokok, dan nilainya seperti apa?

Pemerintah memastikan akan menaikan cukai rokok di tahun 2021. Kenaikan cukai rokok tentu akan berpengaruh pada harga rokok di pasaran.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ( Kemenko PMK ) Agus Suprapto mengatakan,

Pemerintah telah berencana untuk menaikkan harga rokok di pasaran.

Dikarnakan, rendahnya harga rokok saat ini menjadi penghambat upaya pemerintah untuk mengurangi konsumsi rokok pada khususnya remaja.

Terlebih, salah satu indikator keberhasilan pembangunan sumber daya manusia (SDM) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 adalah penurunan persentase merokok usia 0-18 tahun dari 9,1 menjadi 8,7 hingga 2024.

“Ke depan harapan pemerintah dengan menaikkan harga rokok di pasaran,” ujar Agus dikutip dari situs Kemenko PMK, Kamis (28/1/2021).

Pemerintah sebelumnya juga telah menyusun berbagai strategi kebijakan pengendalian tembakau, yaitu kebijakan fiskal dan nonfiskal.

Secara formal, kata dia, Kemenko PMK sudah melakukan diskusi dengan kementerian/lembaga yang terkait guna membahas kebijakan tembakau dan rokok termasuk soal cukai.

“Dengan adanya kenaikan cukai akan menambah pemasukan negara, justru pengeluaran negara juga banyak digunakan untuk biaya kesehatan bagi perokok,” kata Agus.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan prevalensi merokok tertinggi di dunia.

Hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2011 memperlihatkan,

67 persen laki-laki merokok dan 87 persen orang dewasa terpapar asap rokok di rumah.

Lalu Kemudian, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 juga menunjukkan prevalensi merokok di bawah usia 10-18 tahun adalah 9,1 dan 22 dari 100 remaja usia 15-19 tahun telah merokok.

“Kebanyakan remaja yang belum memahami akan bahaya rokok tetap aja masih mencoba rokok,

baik rokok konvensional maupun rokok elektrik,” kata Agus.

Disamping itu, hasil studi Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) tahun 2018 menunjukan bahwa anak yang dibesarkan oleh orangtua yang merokok memiliki kemungkinan 5,5 kali lebih besar untuk menjadi stunting.

“Oleh Karenanya, perlu mendapat perhatian para orangtua agar tidak mencontohkan hal yang kurang baik seperti merokok di dalam rumah,” kata Agus.

Mulai , tanggal 1 Februari Pemerintah akan menaikkan tarif cukai rokok sebesar 12,5 persen pada 2021.

Diketahui, pembahasan kebijakan terkait cukai hasil tembakau tahun ini cukup alot.

Pengumuman kenaikan tarif cukai yang biasanya dilakukan di akhir Oktober terjadi molor hingga awal Desember ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, hal itu terjadi lantaran kebijakan tersebut telah digodok dalam suasana pandemi Covid-19.

Sehingga pemerintah perlu untuk menyeimbangkan aspek unsur kesehatan dengan sisi perekonomian, yakni kelompok terdampak pandemi seperti pekerja serabutan dan petani.

“Sehingga dalam hal ini kita mencoba menyeimbangkan aspek unsur kesehatan di saat yang sama mempertimbangkan kondisi perekonomian umum, yang terdampak Covid-19 terutama kelompok pekerja dan petani,” ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani menjelaskan, aturan kenaikan tarif cukai rokok tersebut mulai berlaku per 1 Februari 2021 mendatang.

Kemenkeu memberi kesempatan kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai DJBC untuk menyiapkan pita cukai serta melakukan sosialisasi kepada industri.

“Jajaran Bea Cukai akan membentuk satuan tugas untuk melayani terkait dengan penerbitan dan penetapan pita cukai dengan tarif baru ini,” kata dia.

Adapun Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang menjadi landasan hukum dari kebijakan tersebut masih dalam proses harmonisasi.

Sri Mulyani mengatakan, PMK soal tarif baru cukai bakal dikeluarkan dalam waktu dekat.

“Direktorat Jenderal Bea Cukai akan memastikan proses transisi dari kebijakan hasil tembakau baru ini dapat berjalan tanpa hambaan. Dan pada kesempatan ini tentu saya minta seluruh jajaran melakukan sosialisasi terkait berbagai aturan akibat kenaikan cukai hasil tembakau,” jelasnya.

Alasan Naikkan Tarif di Tengah Pandemi

Sri Mulyani pun mengaku dalam melakukan formulasi tarif baru CHT di tengah pandemi cukup rumit.

Oleh sebab itu, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seperti keberlangsungan usaha dan hidup banyak orang, yakni para petani dan pekerja di industri rokok.

Walaupun demikian, kenaikan tarif perlunya dilakukan untuk menekan daya beli masyarakat terhadap rokok.

Pasalnya, pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, prevalansi merokok untuk anak-anak usia 10-18 tahun ditargetkan turun ke level 8,7 persen pada 2024.

Di sisi lain, kenaikan tarif juga tetep memperhatikan nasib sekitar 158 ribu tenaga kerja atau buruh yang bekerja di pabrik rokok juga menjadi perhatiannya.

Untuk itu, pihaknya pun tak menaikkan tarif sigaret kretek tangan.

“Artinya kenaikannya 0 persen untuk sigaret kretek tangan yang memiliki unsur tenaga kerja terbesar,” ujar Sri Mulyani.

Kenaikan harga rokok juga berkaitan erat dengan kelangsungan industri beserta 526 ribu petani tembakau.

Dengan alasan menjaga keseimbangan, pihaknya memutuskan kenaikan CHT tidak setinggi tahun ini yang secara rata-rata naik 23 persen atau dua kali lipat dari kenaikan 2021.

Adapun untuk rincian kenaikan tarif cukai masing-masing golongan hasil tembakau sebagai berikut:

Sigaret Putih Mesin

  1. Sigaret Putih Mesin Golongan I 18,4 persen
  2. Sigaret Putih Mesin Golongan IIA 16,5 persen
  3. Sigaret Putih Mesin Golongan IIB 18,1 persen

Sigaret Kretek Mesin

  1. Sigaret Kretek Mesin Golongan I 16,9 persen
  2. Sigaret Kretek Mesin Golongan IIA 13,8 persen
  3. SIgaret Kretek Mesin Golongan IIB 15,4 persen

Dengan menaikkan harga rokok, Pemerintah beralasan untuk mengurangi daya beli rokok dan meningkatkan bagi kesehatan dan peningkatan perekonomian Indonesia.*Ferr

Related posts