Pemprov Jateng Bentuk Tim Percepatan Penurunan dan Penanganan Stunting

MAJALAHTRASS.COM, JAKARTA, ~ Dalam rangka penanganan dan percepatan penurunan penyakit stunting dan gizi buruk, Pemerintah Provinsi jawa Tengah (Jateng) membentuk tim percepatan penurunan angka penyakit stunting atau gizi buruk.

Read More

Tim tersebut terdiri dari berbagai lintas sektoral seperti Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dinas Kesehatan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan pihak lain yang kompeten.

“Stunting dan gizi buruk masih menjadi problem di Jawa Tengah. Melihat kondisi ini, maka saya harap tim ini bisa bekerja efektif mempercepat penurunan stunting. Setelah dilantik, saya minta harus segera kerja,” ungkap Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam rilis keterangannya yang diterima majalahtrass.com. Jakarta, Jumat (20/5/2022).

Ganjar menekankan, hal yang paling utama dan mendasar dalam prioritas kerja dari tim penurunan stunting ini adalah data aktual ibu hamil.

Diingatkan kembali, oleh Ganjar, Jawa Tengah sudah memiliki program ‘Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5Ng)’ yang bisa digunakan untuk membantu proses pendataan itu.

“Seluruh Ibu hamil harus didata dan dilakukan assessment. Dengan itu, apakah mereka punya masalah atau tidak? Kalau bermasalah, langsung dilakukan tindakan intervensi,” tegasnya.

Lebih dalam menurut Ganjar, secara teori, 20% dari Ibu hamil dapat dikatakan mengahadapi masalah. Maka, tugas utama tim ini adalah mencari kejelasan dari 20 persen itu, untuk secepatnya dilakukan tindakan yang tepat dan prosedural.

“Selain tindakan intervensi, pada kasus kandungan bermasalah ini juga harus didampingi. Pendampingan ini bisa dari BKKBN, pemerintah. Perguruan tinggi juga bisa terlibay yaitu dengan program one student one client dan lain sebagainya,” katanya.

Kerja bersama dan sinergi juga dapat dilakukan dengan menggandeng Dasawisma, PKK hingga Babinsa dan Babhinkamtibmas untuk membantu. Dengan bergeraknya semua lini secara bersamaan, maka data bisa didapat dengan valid dan aktual. Kemudian dari itu maka kebijakan yang diambil akan tepat sasaran.

“Kalau gerakan ini bisa, masing-masing dari kandungan bermasalah bisa kita intervensi. Tindakan pertama (intervensi-red) ini penting agar stunting bisa dicegah,” ujar Ganjar.

Ganjar mengingatkan, setelah pendataan selesai sebagai kerja utama, maka kerja kedua yang tidak kalah pentingnya dari tim ini adalah melakukan edukasi pada masyarakat. Banyak hal yang harus diedukasi, mulai persiapan pernikahan, soal gizi, kesejahteraan, akses kesehatan, dan lainnya.

Diakhir Ganjuar menyampaikan : “Saya berharap dengan terbentuknya tim ini, maka pencegahan stunting bisa dilakuka lebih cepat. Bersanding denga program BKKBN, tiga bulan sebelum nikah maka dari mereka wajib dicek kesehatannya. Kalo sejak awal sudah sehat, semua sehat, Insya Allah stunting, bisa dicegah dan ditangani.” **MDT

Related posts