Kapolda Sumsel: Perintahkan Jajaran Tangkap Bos Pemodal Tambang Ilegal

  • Whatsapp
Kapolda Sumatera Selatan Irjen Toni
Harmanto

Majalahtrass.com, – Kapolda Sumatera Selatan Irjen Toni Harmanto memberikan perintah tegas kepada jajaran Polda Sumsel.

Toni mengeluarkan perintah jajarannya mengejar dan menangkap bos pemodal tambang ilegal minyak bumi di Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin ( Muba ).

Read More

“kami sangat yakin ada pemodal yang menghidupkan tambang dalam kasus ini. Dalam satu bulan itu break even point yang mereka dapatkan kembali per tiga lubang sumur selama satu bulan cost senilai Rp 100 juta,” beber Toni Harmanto di Palembang, pada, Kamis, ( 7/10 ).

Toni juga menambahkan bahwa terkait hal tersebut untuk mengusut secara tuntas kasus pertambangan ilegal yang telah menahun terjadi di wilayah tersebut.

Sedangkan, lanjut Toni, membuktikan adanya komitmen antara Polri, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) beserta instansi terkait lainnya untuk memberantas pertambangan ilegal yang telah merusak lingkungan.

“Komitmen yang sama antara Polri dan Forkopimda dalam penegakan hukum, sehingga kasus seperti ini dapat berhenti dan tidak terus berulang setiap tahun,” terangnya.

Toni Harmanto menegaskan bakal menindak tegas siapa pun dan di mana pun pelaku pertambangan ilegal di wilayah hukum Sumatera Selatan.

Saat itu juga, Polda Sumsel telah menangkap enam tersangka saat sedang menambang minyak, pada Kamis (30/9) pukul 17.20 WIB.

Terkait itu, Kapolda Sumsel Irjen Toni Harmanto mengeluarkan perintah kepada jajarannya agar menangkap bos pemodal tambang minyak bumi ilegal

Sementara, keenam tersangka yang ditangkap itu adalah Pangki Suwito, Masrian Adi Sahputra, Nasrullah, Endang Maryadi, Hendra, dan Irwansyah.

Direktur Reserse Kriminal Umum ( Direskrimum ) Polda Sumsel Kombes Muhammad Barly Ramadhani mengatakan, operasi penangkapan tersebut berlangsung selama lebih kurang sepekan dimulai dari pengintaian sampai penyergapan.

Sedangkan operasi itu dilakukan oleh petugas gabungan antara Ditreskrimsus, Satuan Brimob Polda Sumsel, Polisi Kehutanan dan anggota TNI.

Lalu masing-masing tersangka dengan jelas telah melakukan penambangan minyak bumi di dua lokasi terpisah di Musi Banyuasin yakni, wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Meranti di distrik Salero dan KPHP Lalan-Mangsa-Medis di distrik Medis.

“Di sana kami menemukan 1.000 sumur minyak bumi ilegal yang dibuat para tersangka, yang tidak lain merupakan warga setempat,” ucapnya.

Kemudian petugas gabungan juga telah menyita barang bukti berupa dua unit pompa air merek Robin warna kuning, merek Tanika, satu unit sepeda motor Honda Revo, satu buah canting paralon warna putih berukuran empat meter.

Serta satu set tali roll seling, tiga buah baby tank 1.000 liter dalam keadaan kosong dan jerigen berisikan minyak mentah empat liter dan 26 unit genset merek pro-quip warna hitam, dan empat unit mobil.

“Masing-masing barang bukti ada yang dibawa di Mapolda Sumsel dan Polres Musi Banyuasin untuk mendalami kasus ini,” paparnya.

Selain itu, lanjutnya, juga ada peralatan para tersangka yang dimusnahkan di lokasi tersebut di antaranya, motor sebanyak 364 unit, ring besi sebanyak 37 buah, mesin sedot air 30 unit, tangki tedmond sebanyak 102 buah, satu unit senjata api rakitan, dan pondok kayu sebanyak 674 unit.

“Sumur-sumur itu juga sudah ditutup menggunakan alat berat. Ke depan diharapkan segera dilakukan pemulihan lingkungan oleh instansi terkait di sana,” imbuhnya.

Para tersangka dikenakan Pasal 36 Angka 19 Ke-2 dan Pasal 40 Angka 7 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dengan ancaman pidana penjara selama lima tahun dan denda Rp 60 miliar.**Red

Related posts